MEMBANTU ANAK YATIM

Hampir setiap malam sang istri memohon pada Allah seperti ini,”Ya Allah aku tidak ingin mempercepat apa yang Engkau lambatkan dan aku juga tidak ingin memperlambat apa yang Engkau segerakan.Berilah aku kesabaran berlebih di dalam menjalani ujianMu kali ini.Kuserahkan diriku,hartaku dan agamaku padaMu.”

Ini secuil kisah dari sebuah keluarga kecil,yang kebetulan mendapat ujian dari Allah.Dari ujian keburukan hingga ujian kebaikan.Kesabaran dan sifat qanaah dari mereka,menghantarkan mereka dalam keimanan yang semakin baik kepada Allah.Ketika itu anak-anak mereka masih kecil-kecil,sang ayah mendapat cobaan kehilangan pekerjaan tetapnya.Hari demi hari,bulan demi bulan dilewati dengan hidup seadanya.Tanpa penghasilan sang ayah,anak-anak terpaksa makan seadanya,tidak bisa merasakan susu,tidak pernah merasakan daging,yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan si anak.

Sampai suatu ketika sang ayah berhasil mendapat pekerjaan dengan gaji sebesar Rp 700.000. Ini merupakan rahmat Allah meski semua orang tahu jumlah ini sebenarnya amat kecil untuk bisa digunakan hidup cukup dalam satu keluarga selama sebulan,apalagi harga kebutuhan yang serba mahal. Namun pasangan suami istri ini begitu bersyukur atas rezeki yang Allah berikan pada mereka. Setidaknya anak-anak mereka mulai bisa sedikit demi sedikit merasakan susu yang amat diperlukan oleh seorang anak.

Tiga bulan sudah sang ayah bekerja,sungguh benar bahwa janji Allah tidak pernah melesat sedikitpun bagi siapa saja yang mensyukuri nikmatNya. Sang ayah mendapatkan kenaikan gaji menjadi Rp 1.000.000.Pasangan suami istri ini makin memperbaiki rasa syukurnya pada Allah.Bukan sekedar alhamdulilah di lisan dan hati mereka.Tetapi berusaha juga untuk menyisihkan sebagian pendapat mereka untuk zakat dan sedekah.Mereka bukan ahli ibadah,juga bukan termasuk orang yang baik pengetahuan agamanya.Tetapi ada satu surat dalam Al-quran yang mereka tahu,dan mereka ingin mengamalkannya pada kehidupan mereka.Al-Maun..

“Tahukah kamu orang yang mendustai agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin,maka celakalah orang yang shalat,yaitu orang yang lalai terhadap sholatnya,yang berbuat ria,dan enggan memberi bantuan.” [Al-Maun 1-7]

Suatu hari sang istri meminta ijin pada suaminya untuk membantu biaya sekolah 1 anak yatim,dan ternyata mendapat ijin.Tiga bulan berlalu,tiba-tiba Allah melipatkan rezeki keluarga ini. Sang suami mendapat kenaikan gaji lagi menjadi Rp 1.300.000.Si istri berpikir jika Allah begitu mudah dan murah memberi rizkiNya,mengapa saya tidak? Karena itu si istri memohon ijin pada suaminya lagi untuk menambah jumlah anak yatim yang dibantu menjadi 3 anak. Dan tiga bulan berikutnya Allah menukar kembali semua uang yang telah dikeluarkan keluarga ini. Keluarga ini mampu menyisihkan sebagian uang mereka padahal mereka sendiri amat membutuhkan untuk anak-anak mereka. Sungguh benar firman Allah bahwa sedekah itu ibarat sebutir padi yang berubah menjadi 7 bulir,yang tiap-tiap bulirnya ada 100 biji.Allah tidak tidur,Allah melipatgandakan pahala bagi orang-orang yang memberi pinjaman pada Allah.

Ujian kebaikan keluarga ini menjadi pelajaran berharga,betapa sedekah yang dikeluarkan ikhlas karena mencari ridho Allah benar-benar mendapat balasan berlipat-lipat.Bukan hanya materi tetapi juga ketentraman keluarga,kesehatan anak-anak,rezeki barokah,yang walaupun nilai uangnya kecil tetapi Allah selalu cukupkan untuk hari-hari mereka. Bukankah uang yang banyak jika tidak barokah akan menguap kemana-mana,tidak jelas penggunaannya,banyak terbuang untuk hal yang sia-sia,dan sering menyebabkan buah hati bahkan diri kita sendiri langganan sakit…

Menyantuni anak yatim bukan sekedar memberikan bantuan materi yang mereka butuhkan tetapi juga meringankan beban yang dipikul oleh seorang janda,yang terpaksa harus mencari nafkah untuk anak-anaknya.Siapa orangnya yang membantu mengangkat beban orang lain yang sedang kesulitan,maka Allah akan bantu mengangkat beban orang tsb.

Saudaraku semuslim,mari petik hikmah dari kisah ini,jika mereka yang berpenghasilan sedikit bisa menyantuni anak yatim,mengapa kita tidak? Bukan besarnya penghasilan yang menjadi tolak ukur bisa/tidak seseorang membantu anak yatim/fakir miskin,akan tetapi kesadaran untuk membagi rezeki yang telah Allah berikan pada kita,dimana didalamnya terdapat hak-hak anak yatim dan orang miskin.Cintai anak yatim & duafa, maka Allah akan mencintai kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar